UEFA mengumumkan langkah hukum yang tegas: mereka tengah menyiapkan gugatan pidana terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Gugatan pidana UEFA itu berkaitan dengan dugaan pelanggaran hukum di Swiss seputar rencana restrukturisasi komersial FIFA yang bernilai sekitar US$4,2 miliar dan akhirnya dibatalkan.

Selain persiapan tuntutan di Swiss, badan pengelola sepak bola Eropa tersebut mengajukan permohonan penemuan bukti (discovery) di pengadilan federal Amerika Serikat untuk memperoleh dokumen dan kesaksian dari beberapa entitas yang terkait dengan kesepakatan tersebut. UEFA juga menegaskan akan mendukung kandidat penantang dalam pemilihan kepemimpinan FIFA yang dijadwalkan pada Maret.
Latar belakang kasus
Garis besar perselisihan bermula dari inisiatif yang disebut FIFA Forward Enterprise, di mana hak komersial Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub direncanakan dipindahkan ke anak perusahaan baru. Rencana itu mengusulkan penjualan 20 persen saham perusahaan tersebut kepada sekelompok investor dengan nilai transaksi mencapai US$4,2 miliar.
Langkah itu ditentang keras oleh UEFA dan sejumlah asosiasi anggotanya. Menurut dokumen yang diajukan, proposal tersebut dikembangkan secara rahasia oleh Infantino bersama lingkaran penasihat kecil tanpa melibatkan Dewan FIFA secara resmi, sehingga menimbulkan keberatan soal tata kelola dan transparansi.
Gugatan pidana UEFA dan landasan hukum
UEFA menyatakan dasar hukum untuk tindakan pidana mengacu pada Pasal 158 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss. Dalam dokumen pengadilan, kuasa hukum UEFA menilai strategi komersial yang diusulkan merupakan pengabaian kewajiban yang mencengangkan dan mungkin melanggar ketentuan hukum pidana jika bukti mendukung tuduhan tersebut.
Permohonan discovery di Amerika Serikat
Untuk memperkuat kasusnya, UEFA mengajukan permohonan discovery ke pengadilan federal AS. Mekanisme ini memungkinkan pihak asing meminta dokumen dan kesaksian dari perusahaan-perusahaan Amerika yang relevan untuk digunakan dalam proses hukum di luar negeri.
Dokumen pengadilan menyebutkan permintaan informasi ditujukan kepada anak perusahaan FIFA serta Thrive Capital, yang disebut-sebut bakal menjadi investor utama dalam transaksi itu. Pendiri Thrive Capital, Joshua Kushner, tercatat sebagai calon investor dalam rencana yang menuai kontroversi tersebut.
Kejanggalan penilaian dan insentif kepada asosiasi
Salah satu inti keberatan UEFA adalah soal valuasi yang diimplikasikan oleh angka US$4,2 miliar. UEFA berpendapat angka itu mengindikasikan valuasi dasar sekitar US$20 miliar untuk aset komersial yang dimaksud—angka yang dinilai terlalu rendah oleh badan pengelola Eropa tersebut.
Menurut dokumen hukum yang diajukan UEFA, penilaian tersebut tidak pernah melalui proses lelang terbuka atau diuji oleh pakar keuangan independen. Sebaliknya, penilaian pasar independen disebut-sebut menunjukkan valuasi dasar yang wajar jauh melebihi US$30 miliar. UEFA juga menyoroti laporan mengenai imbalan sekitar US$40 juta yang dikabarkan ditawarkan kepada asosiasi anggota untuk mempercepat persetujuan restrukturisasi.
Dampak pada kepemimpinan dan hubungan antarlembaga
Perselisihan ini telah menimbulkan ketegangan besar dalam tata kelola sepak bola internasional. UEFA sempat mengancam boikot terhadap turnamen global mendatang, namun ancaman itu ditangguhkan setelah ada jaminan bahwa pemisahan unit komersial tidak akan dilanjutkan untuk saat ini.
Meskipun ancaman boikot ditarik, hubungan kepercayaan antara UEFA dan FIFA tetap terganggu. UEFA menyatakan akan bekerja sama dengan konfederasi mitra untuk memastikan asosiasi anggotanya memiliki alternatif kepemimpinan yang kredibel, sehingga Infantino diperkirakan akan menghadapi oposisi kuat dalam pemilihan presiden FIFA yang akan berlangsung pada Maret.
Kasus ini menandai eskalasi sengketa komersial menjadi konfrontasi hukum serius, dan potensi tuntutan pidana di Swiss bisa memperpanjang dampak politik dan institusional yang dirasakan di lingkungan sepak bola global.
